Sukabumi, 29 September 2018

Seminar Ekonomi Kreatif Relasi Seni, Budaya, Ekonomi Kreatif & Kota “Sebagai Tautan Pembentuk Ruang Peradaban Kota”  telah dilaksanakan oleh DISPORAPAR Kota Sukabumi  pada tanggal 29 September 2018 di Meeting Room Toserba Selamat yang dihadiri oleh para penggiat seni dan komunitas.

Hadir sebagai pembicara pada seminar tersebut yaitu I Hendy Faizal (Kang Egon) – Founder & Chairman of Presidium of Paguyuban Soekabumi Heritages, architect, Uban Observer and Keynotes on Architectural, Historical and Cultural Issues, Bapak H. Iskandar (Pemilik GWK Sukabumi), dan Nasrullah Abdul Malik (Pemilik Rumah Mesra).

Seminar yang dibuka oleh Walikota Sukabumi Bapak Ahmad Fahmi ini, bertujuan untuk mendengarkan aspirasi komunitas untuk mengelola pembentukan ruang peradaban kota. Dalam sambutannya pak Fahmi berpendapat bahwa saat membicarakan Sukabumi creative bukan sumber daya alamnya yang dieksplore akan tetapi sumber daya manusia lah yang harus banyak dikembangkan. Sehingga dapat mencari solusi yang tidak biasa, yang tidak terbiasa, tetapi hasil yang luar biasa.

Pada  seminar kali ini, Kang Egon mengangkat materi Relasi Estetika dan kota, sebagai tautan pembentuk ruang kreatifitas dan ruang peradaban kota. Menurut kang Egon belum ada kesepahaman antara Pemerintah dan masyarakat kota Sukabumi mengenai estetika kota. Sebagai produk gagasan seni tidak hanya manifestasi penghargaan akan dunia di luar manusia melainkan sebagai penggagas dan pencipta seni. Konsepsi seni dan kreatifitas tidak melulu mengenai keindahan semata. Seni baik sebagai kegiatan produksi dan objek dari produksi gagasan atau kreatifitas bisa merupakan manifestasi dari pertentangan, perlawanan maupun resistensi sebagai bagian dalam memahami dunia itu sendiri. Kota terbentuk dalam kaidah-kaidah dan fungsi pelayanan membutuhi kebutuhan warga. Isu-isu suprastruktur yang terkait dengan keseharian hingga isu perkembangan masa depan kota adalah warna dalam perkembangan kota itu sendiri. Salah satu pendekatan seni dan dunia kreativitas terhadap kota adalah sebagai bagian atau pijakan pembentukan tatanan estetika spesial dan sekuen dalam konteks fisik (infrastruktur) maupun non fisik (sufrastruktur).produksi gagasan atau kreatifitas kolaboratif dapat memberikan identitas kuat kepada kota dalam konteks peradabannya dan sebagai simbol yang sekaligus memiliki nilai keindahan (estetika) dan kelokalan (genius loci) disamping memajukan kehidupan bermasyarakat kota.

Layaknya, kota yang baik dan beradab ia tidak hanya dapat mengakomodasi masyarakat melainkan ia bisa dibanggakan sekaligus dimiliki secara utuh oleh masyarakatnya. Dan dengan demikian peradaban kota terdefinisikan secara utuh. Live-able and Love-able City.

Dalam Materi selanjutnya di sampaikan oleh H. Iskandar

Bagaimana Sukabumi sebagai kota kecil dapat mengimbangi kota di luar? Caranya dengan Think=Global Act = Lokal. Sukabumi sebagai kota yang memiliki posisi strategis yang rawan dilewati. Oleh karena itu Kota sukabumi harus memiliki daya tarik unik kelas, minimal sukabumi bisa mencari smartcity. Menurut hasil kajian UNESCO masa depan kota jika tidak berbasis budaya maka kota tidak akan sustain/berkelanjutan. Maka dari itu kota sukabumi harus dibangun dengan basis budaya sukabumi. Terdapat aspek terkait arah pembangunan masa depan kota yang inklusif, kreatif dan berkelanjutan : people, environment, policy. Unesco creative city network sebagai key partner unesco dalam mencapai SDGS. Ada 7 bidang yang dapat dipilih, yaitu: Crafts & Folk art, Design, Film, Gastronomy, Literature, Media arts, music. Harapan atas program creative cities ini adalah menciptakan ruang baru bagi dunia pariwisata, didorong mengembangkan kreasi dan karya yang inovatif.creative city tidak dibatasi wilayah.

Wadah yang dibutuhkan saat ini : Forum SCC kerja Berjamaah dari Akademisi, Bisnis, Komunitas dan media.

Kemudian selanjutnya dilanjutkan oleh Pemilik Mesin Suara dalam pemaparan bagaimana peran anak muda kreatif, nasurllah abdul malik.

Saat banyaknya jargon yang menekankan dan berbicara lantang “kreatifitas tanpa batas”, yang sebenarnya sering terjadi dan selalu datang menjemput adalah “Kami harus kreatif karena kami punya keterbatasan”

Saat ini di berbagai belahan dunia sedang berkembang “ekonomi berbagi”, yaitu sebuah ekosistem sosio-ekonomi yang dibangun atas dasar berbagi pakai sumber daya manusia dan fisik. Konsep berbagi ini disebut co-working space. Pertanyaannya apakah co-working space dapat diterapkan di sukabumi?

Rumah mesra selalu menjadikan lues sebagai hal utama yang harus disematkan, sehingga rumah mesra bisa mengadopsi sistem co-working space dengan sentuhan lokal. Selain ruang, ada semangat/motor harus dipastikan terlebih dahulu di pantik agar tercipta iklim ramah berkarya. Co-working space adalah medium, energi adalah pondasi dari ruang itu sendiri.