Alun-alun dan Masjid Agung Kota Sukabumi /foto AlamMumu

Tak pernah ada yang benar-benar mengenal bagaimana ia naik haji, asalnya dari mana, di mana keluarganya berada atau siapa nama yang sebenarnya. Kami, anak-anak kecil di Sukabumi di jamannya, hanya mengenalnya sebagai Haji Jalil.

Haji Jalil adalah penjual isim (semacam jimat) dan juga obat-obatan. Obat kuat, obat berbagai jenis penyakit bahkan obat kebal. Tapi bukan profesi sebagai penjual isim dan obat yang membuatnya demikian populer di kalangan anak-anak dan mungkin juga orang dewasa di Sukabumi melainkan metode promosinya.

Tidak seperti penjual obat lain yang menawarkan obat dan jimat secara konvensional, berbasis narasi saja, Haji Jalil mendemonstrasikan pengaruh langsung obat dan jimat ini pada mereka yang menggunakannya. Panu bisa langsung lenyap, kutil bisa hilang seketika, pemilik sesak nafas bisa langsung lari sekonyong-konyong dan yang jantung mungkin bisa lepas jantungnya. Ini bercanda, tapi sangat mungkin…

Atraksi Haji Jalil memang mendebarkan. Sriiing…!!! Seketika ia akan mencabut golok. Ia ambil sehelai kertas dan memotongnya dengan golok untuk membuktikan bahwa senjata tajam itu benar-benar bisa melukai. Dan ini yang paling ditunggu…

Ia akan memilih salah seorang penonton untuk memegang isim, produk unggulannya itu. Setelah penonton itu memegangnya, sambil meminta ijin, Haji Jalil memegang rambut si penonton. Diiringi komat-kamit yang entah isinya apa, Haji Jalil menggesek-gesekan golok untuk memotong rambut si penonton.

Ajaib! Golok yang demikian tajam itu seperti tak berdaya menghadapi beberapa helai rambut si penonton yang telah memegang isim si Haji.

Mudah saja kita menduga bahwa penonton itu bagian dari pertunjukannya. Haji Jalil tahu betul bahwa ia bukan hanya seorang penjual jimat dan obat tapi ia adalah seorang penampil, a street performer. Unsur dramaturgi, ia pelihara benar untuk menguasai pemirsa. Tapi seorang teman Morgana Geri -yang tak mungkin punya hubungan bisnis apalagi kerabat- mengakui pernah menjadi orang yang dipilih Haji Jalil, The Chosen One. Tak seperti David Moyes yang berantakan, isim Haji Jalil bekerja pada rambutnya dan golok itu tak kuasa. Tapi apa daya, 35 tahun kemudian, umurlah yang lebih digdaya atas rambut teman saya ini.

Atraksi kedua yang tak kalah mendebarkan adalah tari ular! Bukan. Pak Haji Jalil tidak seperti dibayangkan Ita Purnamasari dengan Penari Ular-nya. Ia mengeluarkan beberapa jenis ular, termasuk kobra. Sontak saja penonton melebar dari kalangan karena ngeri dengan kedatangan reptil-reptil berbisa itu.

Dengan penuh keberanian, ia ambil ular-ular yang telah membentuk jadi serupa sendok itu dan memaksanya mengeluarkan bisa. Ia masukan bisa itu ke dalam toples kecil sebagai bahan untuk obat. Haji Jalil tak berhenti menunjukan bekas-bekas gigitan si ular pada para penonton dan mengklaim ia tak pernah merasakan sakit apapun meski telah berkali-kali dipatuk ular. Berkat obat dan isimnya.

Haji Jalil hanya ada di bulan puasa saja. Sepengetahuan saya Haji Jalil tak pernah punya gig di bulan non-puasa. Mungkin saya keliru tapi begitulah Haji Jalil mewarnai ritual ngabuburit kami semasa kecil.

Tapi Haji Jalil adalah persinggahan. Tujuan kami sebenarnya adalah Alun-alun Kota. Di sanalah atraksi-atraksi dan produk-produk yang lebih ramah anak biasanya digelar. Bulan puasa, Alun-alun penuh dengan orang yang menawarkan sewa gimbot (game watch), lempar bola pingpong ke gelas berhadiah mie instan, mainan-mainan khas bulan puasa (monopoli, ular tangga) atau orang yang sekedar ingin bercengkrama. Alun-alun benar-benar menjadi melting pot, tempat pertemuan orang-orang yang memiliki kepentingan dagang (bisnis), pulang dari masjid agung (ibadah), polisi yang mengatur lalu lintas (hukum) dan orang-orang di Pendopo Kabupaten yang baru selesai menjalankan rutinitas roda pemerintahan.

Di Jawa, arsitek kota biasanya menempatkan alun-alun di tengah pusaran kepentingan itu (bisnis, hukum dalam bentuk penjara, pemerintahan dan agama). Ia adalah common ground, irisan bagi perbedaan-perbedaan karena alun-alun sesungguhnya menawarkan dialog dan interaksi.

Jika ada yang ingin mereduksi alun-alun menjadi semata fungsi sebagai taman, apalagi dengan embel-embel digital- (memang tanamannya bisa ditumbuhkan dengan cara touch screen?) niscaya ia perlu menemui Haji Jalil dan menjadi The Chosen One, namun…tanpa isim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here