Hidup adalah irama. Perkara tempo dan nada, terserah tiap orang suka. Yang pasti, notasi musti pas duduk ditempatnya. Jika tidak, partitur bisa ngawur, siapapun yang mendengar bisa dibuat kabur, tentu musik dan lagu yang mengalun bakal sumbang dan hancur.

Biarlah menjadi porsi alhi neurosains atau psikoakustik dan kawan-kawannya untuk pahami mengapa ibu jari meliuk tak terencana saat mendengar sambaladonya ayu ting-ting, mengapa wajah ini merona ketika meresapi kunto aji bernyanyi “Terlalu lama sendiri” atau dada ini berdetak kencang mendengar teriakan “renegade of funk” si gimbal, Zach dela rocha.

“Tak pernah terbayang akan jadi seperti ini pada akhirnya. Semua waktu yang pernah kita lewati bersama nyata hilang dan sirna,” penggalan lirik nyanyian gadis cantik ini sungguh menyenggol hati pedagang saat melihat sisa puing bekas reruntuhan gedung pasar pelita.

“Hitam-putih berlalu janji kita menunggu tapi kita tak mampu” untaian syair yang terus mengalir seakan mewakili rasa yang ada. Perjanjian perpanjangan kontrak yang diminta pedagang sungguh pernah terjalin resmi dengan pihak Pemda. “seribu satu cara kita lewati tuk dapatkan semua jawaban ini” Bukan hanya pernyataan masih tangguhnya gedung, Detail Engineering Design, RAB, Business Plan, juga Management Building pun turut dipersembahkan sesuai yang diminta pemda demi mempertahankan lapak dagang tercinta, pasar pelita. Namun apa nyata yang ada? Semuanya tak mampu meluluhkan hati pimpinan kota. sampai detik ini lamaran pedagang atas perpanjagan kontrak juga pengelolaan pasar Pelita tak pernah terjawab. Cintanya malah jatuh pada PT. AKA, yang entah datang dari kahyangan mana.

“bila memang harus berpisah, aku akan ragu untuk setia. Bila memang ini ujungnya, kau akan perlahan padam di dalam jiwa.” Proyek Pasar pelita ibarat gadis molek yang sanggup menggetarkan jiwa siapapun yang melihatnya. Sekujur tubuhnya memesona. Tidak cukup rupanya ketampanan juga necisnya penampilan. Pribadi yang agung dibarengi dengan kondisi materil yang mumpuni tentu menjadi syarat utama. Bobot-bibit-bebet, tak boleh dilirik selintas lalu kalau tidak mau merana seperti yang dialami gadis malang ini. Sudah 11 bulan berlalu si gadis kedinginan, telanjang. Pakaiannya dilucuti dengan niat diganti yang baru. Mangkraknya pembangunan ini disebabkan oleh faktor-faktor yang tak perlu dipahami warga. Karena itu adalah porsi penguasa belaka. Seperti halnya orang tak usah pahami apalagi menjelaskan secara akademis mengapa airmatanya menitik saat mendengarkan lagu Broery pesolima.

“Tak bisa kuteruskan, dunia kita berbeda. Bila memang ini ujungnya kau kan perlahan padam di dalam jiwa” lirik ini juga selaras rupanya dengan apa yang diutarakan ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pelita pada pihak pemda saat temu muka di balai kota. “kalau pembangunan Central Point ini sampai terjadi, dan harga serta mekanisme pembayaran tetap seperti yang mereka inginkan, kami akan mundur.” Umumnya, pedagang di pasar tak perlu ruangan ber-AC atau lantai selicin jidat motivator super kenamaan itu. “harga sewa Central Point terlalu mahal. kita hanya perlu tempat jualan yang nyaman dan aman.” Sambungnya.

“Memang tak mudah tapi ku tegar menjalani kosongnya hati. Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi dan simpan tuk jadi history” Berat sangat bagi warga atau pedagang pasar Pelita untuk menghadapi semua kebijakan ini. Dan ini memang nyata terjadi. Kondisi ekonomi warga pasar pasca pembongkaran begitu merosot. Relokasi sementara tidak menjadi solusi yang tepat. Penumpukan PKL di berbagai tempat membuat pelanggan bingung untuk belanja. Wajah ekonomi semakin murung. Banyak tikar yang kemudian terpaksa digulung. Sisa pedagang yang bertahan hanya bisa pasrah tak berdaya, berharap cemas memikirkan nilai sewa lapak kelak. Meski arus uang di laci lapak seringkali mampet karena situasi pasar semakin ribet, senyum anak-istri di rumah harus tetap lestari.

Inilah irama pilu yang sekarang mengiringi hari mantan pedagang pasar pelita juga kawan-kawan lainnya. Notasi dalam partitur yang ada, jelas dirasa tidak berjejer sebagaimana baiknya. Tapi, show must go on, pagelaran panggung sandiwara harus tetap berlangsung. Walau terhimpit diantara gelak-tawa pesta pemrakarsa, meski terjepit dalam nyanyian dan tari para pengembang bangunan pasar, pedagang wajiblah tegar. Nada fals atau sumbang yang mengalun semoga menjadi sebuah gubahan lagu baru yang bisa mendewasakan kita.

Hamdan Sanjaya

Sukabumi, 27-02-2016