Sang guru pernah bercerita “seorang gadis bertanya pada ibunya tentang siapakah salah satu dalam pasangan yang kadar cintanya paling besar? Dia yang paling merasa bahagia. Itulah jawaban sang bunda. Cinta mewujud dengan berbagai bentuk. Pengejawantahan ide yang menjadi RPJPD/RPJMD kemudian direalisasikan hingga terbentuk sebuah karya juga merupakan sepenggal cinta pimpinan kota terhadap wilayah juga penghuninya.

Proses aksi nyata yang bisa dilakukan seseorang tentunya tidak sama. Kepala keluarga yang hendak menggali sumur di rumahnya tidak perlu repot melalui prosedur administrasi yang teramat panjang. Lain hal dengan kepala dinas pemerintahan kota, untuk menancapkan sebatang bambupun haruslah melalui berbagai rapat kerja sesuai dengan PERDA. Bila perlu pansus dari pihak legislatif juga para jagoan.

Bisa dibuktikan lewat tulisan bahwa negara mengatur segala rupa sistem yang pada umumnya bertujuan untuk memberi yang terbaik bagi rakyatnya. Dan pemberian yang sempurna boleh dikatakan adalah pemberian yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh si penerima.

Masalah cara, sudah pasti pemerintah jauh lebih paham. Kota sukabumi ini bukan pengecualian. Pemkot serta jajaran seyogyanya musti memberi apa yang sesuai dengan kebutuhan warga. Bagaimana pun caranya, asalkan tidak melindas aturan yang ada. Salah satu contoh, Pasar tradisional terbesar di jantung kota sukabumi kini sudah dibumi-ratakan dengan tanah. Apa sebab? Diamininya rencana gemilang pemerintah untuk membenahi infrastruktur. wajah kota jangan sampai kusut dengan berdirinya pasar pelita yang usang.

Warga membutuhkan pasar yang represntatif. Mudah dijangkau, bersih, rapih, indah bila perlu diatur sedemikian rupa bak perpustakaan Bibliotheque Nationale di paris sana. Pembangunan di setiap daerah haruslah berjalan. Untuk menjawab tantangan jaman agar suatu wilayah tak lagi dikategorikan atau dibilang tertinggal. Selain hitungan kertas, rencana tersebut tentu perlu berbagai bentuk dukungan dari banyak pihak. Tidak adil juga rupanya jika kita sodok-sodok terus pemda untuk bekerja sedangkan kita sendiri berleha-leha.

Setelah berakhirnya masa pengelolaan pasar pelita oleh PT. Intra Nusa Puramas selama 20 tahun di tanggal 12 Agustus 2012 lalu, pemerintah tidak tinggal diam. Penguasaan pasar pun kembali ke pemda walau serah-terima hak pengurusan dan tetek-bengek pasar dari pengelola tidak pernah diberitakan pun diketahui oleh pengehuni pasar itu sendiri. Warga pasar yang galau karena tidak paham atas status lapaknya kemudian meminta pemda untuk memberikan perpanjangan kontrak, karena usaha wajib berlanjut. perut bukan hanya bisa mengeluarkan kotoran tapi juga musti terus diisi.

Muhammad Muslikh Abdusyukur sebagai walikota saat itu akhirnya memberikan ijin perpanjangan kontrak selama 5 tahun dengan syarat pasar harus terbukti bahwa besok-lusa tidak kemudian rubuh menimpa semua yang ada di dalamnya. Dudi Fathul Jawad selaku kepala Dinas KOPERINDAG saat itu pun sempat berkata di depan ratusan warga pasar bahwasanya pemerintah tidak mau ambil resiko bahaya jika bangunan pasar ambruk. “abdi sareng dunungan abdi tiasa masuk kerangkeng upami kajantenan pasar ieu runtuh”.

Demi keberlangsungan usaha, warga pasar sepakat untuk patungan membayar pihak PUSLITBANGKIM agar pasar pelita yang sudah berumur 20 tahun itu diperiksa. Selama kurang-lebih 10 hari di lapangan dan 3 bulan di labolatorium. Badan pasar dicek dengan sangat teliti. Seperti dokter yang sedang memeriksa kesehatan pasien lansia. Perlu didiagnosa ini-itunya supaya bila diketahui adanya penyakit, si pasien segera dijeksi atau diberi asupan macam-macam obat agar kembali bugar.

Hasilnya memang nyata, pimpinan PUSLITBANGKIM memaparkan di balaikota juga dihadiri kawan-kawan media bahwa pasar pelita masih dinyatakan mampu berdiri tegap meski beberapa bagian harus diperbaiki, untuk antisipasi. Perpanjangan kontrak pun disepakati secara resmi. Kadar galau warga pasar perlahan menurun. Tapi sayang, untung tak dapat diraih-malang tak bisa dihalang, usai PILKADA dan walikota lama harus lengser karena sudah dua kali menjabat, keadaan jadi tak serupa. Walikota kini yang pada masa kampanye memberi angin segar bahkan menyarankan pedagang untuk mengelola sendiri pasar lewat Koperasi Pasar Pelita atau Paguyuban Pedagang Pasar Pelita tidak memberi kebijakan yang sesuai dengan wacananya waktu lalu.

PT. Anugerah Kencana Abadi adalah pihak yang kini dipilih pemda untuk membangun dan mengelola pasar selama 25 tahun ke dapan. Melalui proses lelang terbuka juga koordinasi cantik ke segenap tokoh besar pasar, Irwan yang tambun sebagai pimpinan perusahaan yang dikuasakan konsorsium begitu lincah menggiring bola hingga membobol jantung pertahanan pedagang pasar pelita yang malang.

Ketidak tersediaannya dana dari negara untuk membenahi pasar pelita bukan tidak ada. Sudah diketahui oleh banyak pihak bahkan diakui oleh Muhammad Muraz, walikota sukabumi sekarang, bahwa pemprov sudah memberikan 30 milyar untuk mendandani juga menyuplai berbagai gizi serta vitamin agar pasar kembali segar. Lagi-lagi malang tak dapat dihadang-untung malah terbendung, bantuan tersebut tidak diindahkan. Konsepsi Central Point lah yang tetap dipegang. Rencana pembangunan pasar yang ditunggangi bioskop, tempat hiburan, kolam renang-juga hotel berbintang pun menjadi proyek mercusuar yang dianggap sesuai dengan kebutuhan warga pasar pelita khususnya, warga sukabumi umumnya. BOT, sebagai pola kerjasama yang dipakai pemda untuk urusan pembangunan infrastruktur ini, dimana keuntungan jelas berpihak pada developer atas jasanya menyulap pasar pelita menjadi Central Point dan mengelolanya selama 25 tahun. Juga berpihak pada Pemda yang kemudian mendapatkan aset bangunan dengan segala fasilitasnya setelah hak konsesi berakhir. Lalu apa yang mengena pada pedagang pasar? Harga sewa yang tinggi juga mekanisme pembayaran yang berat tentu harus diterima jika ingin terus berdagang. Di sisi lain kemudian dirasa monopoli pemerintah selama 25 tahun berpindah tangan pada pemrakarsa atau pengusaha.

Inikah manifestasi cinta yang warga butuhkan? Apakah seseorang patut dijitak apabila dalam kasus ini pola BOT disama artikan dengan konspirasi pengusaha dengan penguasa? Legislatif, eksekutif, dan semua elemen yang ada sudah seharus bisa menjawab. Yakinlah ada pola yang lebih bijaksana. Untuk memanifestasikan cinta, kompetensi masing-masing pihak wajib dibarengi dengan nilai moral serta keagamaan yang mulia.

Oleh : Hamdan Sanjaya (Warga Kota Sukabumi)

25 Feb. 16