11885252_10153491962909318_919970480071048256_n
Geri –  Penggiat Social Media di Sukabumi

Masih ingat tulisan saya tentang Cawabup terheboh 5 tahun yang lalu di Sukabumi? yah anda benar, Ayu Azhari lah bintangnya. Tapi, kali ini saya tidak akan bercerita tentang Ayu Azhari ataupun kehebohan cerita pencalonannya yang menurut seseorang sumber saya bahwa pencalonan itu hanya tingkah keisengan segelintir orang media, broker partai dan Ayu sendiri.

Mari kita tinggalkan tentang pilkada Sukabumi yang kadang tak bisa dimengerti, mari kita lupakan Ayu Azhari hingga Desy Ratnasari yg sering digadang-gadang arti calon Bupati. Sekarang saatnya berandai andai, seperti syair dari Opie Andaresta dengan tembang asiknya “andai aaaa aku jadi orang kaya” … Nah, karena saya sedang berandai dan saat ini sedang berada di Sukabumi dengan kondisi jelang PILKADAL, maka ijinkan saya berandai2 sebagai calon Bupati Sukabumi yang sedang mempersiapkan hari H pencoblosan.

Perandaian saya juga bisa jadi merupakan proposal saya bila suatu saat nanti diijinkan berperan serta dalam melakukan perubahan di tempat kelahiran saya. Kondisi Sukabumi Terkini Saya saat ini adalah seorang Pemimpi ditengah hirukpikuk dunia nyata yang sebagian orang bilang kejam, sebagian orang menganggap tantangan, dan ada juga menjadi anugrah untuk yang lainnya. Saya berada diposisi ketiganya, sebuah dunia yang HARUS saya syukuri sebagai anugrah, namun begitu banyak tantangan yang menghadang, serta kadang terasa kejam ketika melalui berbagai kenyataan yang ada.

Lahir di sebuah desa kecil di selatan Sukabumi, dikenal sebagai daerah terpencil, terisolir dan MISKIN. Namun wilayah tersebut dikatakan memiliki potensi terpendam, bahkan potensi wisatanya disebut-sebut sebagai surga yang tertutup tirai misteri AKA the hidden paradise bila orang mancanegara menceritakannya. Surade namanya, disebut sebut calon Ibukota Kabupaten Sukabumi Selatan atau nama lainnya Kabupaten PAJAMPANGAN.

Hobby saya adalah menulis, membaca, berpetualang, makan-makan, berorganisasi, berwirausaha dan terakhir karena modernisasi cyber 2.0 maka saya memiliki hobby yang begitu potensial sekaligus lebih dominan dalam hidup dan berkehidupan, dialah socialmedia. Ya, saya penggiat socmed dengan jam terbang sejak 2004 – hingga sekarang dan intensitas per hari hampir lebih dari 10 jam.

Tentang Sukabumi, yang saya tahu adalah sebuah kota dan Kabupaten yang memiliki nama yang sama. Sebuah wilayah di Jawa barat yang memiliki kekhasan tersendiri dibanding wilayah lain. Terkenal konsumtif, gaya hidup yang tinggi, dengan tingkat ekonomi yang statis. Sukabumi juga terkenal dengan peristirahatannya bersanding dengan puncak dan cisarua sebagai pemasok peristirahatan paling berpotensi di Jawa Barat. Menurut sebagian sumber, Sukabumi berasal dari kata suka bumen bumen (dalam bahasa sunda artinya betah untuk tinggal lama). Maka wajar banyak orang betah untuk beristirahat di Sukabumi, baik diwilayah pegunungannya maupun disekitar pantai pantai eksotisnya.

Sukabumi seperti surga bagi para pensiunan, surga bagi mereka yang ingin menghabiskan waktunya dengan keluarga, dengan pertaniannya dan jauh dari kebisingan hiruk pikuk dunia modern. Saya Curiga, memang kemajuan di Sukabumi seperti disetting untuk TIDAK berkembang secara ekonomi modern seperti JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGGERANG, BEKASI dan BANDUNG padahal begitu dekat begitu nyata kota kota tersebut dengan SUKABUMI. Sehingga, Sukabumi seperti disett sebagai kota peristirahatan dengan suasana sunyi dan bersahaja.

Masih inget film “Keluarga Cemara”? yah nuansa Sukabumi begitu erat dengan kebersahajaan, nuansa kekeluargaan dan tinggi nilai nilai sosial dan religiusitas. Entah itu pandangan pribadi, atau analisis emosional saya saja, MUNGKIN. Sukabumi merupakan sebuah wilayah yang unik, sebuah perpaduan yang lengkap, makin lengkap ketika sekarang mulai dibumbui dan diracik dengan segala rasa oleh para penguasanya. Sukabumi memiliki banyak wilayah Pegunungan seperti, pegunungan walat yang membentang di 4 kecamatan yaitu : Cisaat, Cibadak, Cantayan, dan Cikembar. Pegunungan Gede yang ada di Utara Sukabumi, pegunungan disekitar alur jalan ke pelabuhanratu, pegunungan di beberapa wilayah seperti Cibitung, Surade, Ciemas, dan berbagai tempat yang terpisah.

Sukabumi juga kaya akan pantai dan laut yang kaya akan potensi kelautannya yang membentang dari perbatasan banten sampai perbatasan Cianjur, beberapa yang terkenal di tingkat Nasional adalah Pelabuhanratu dan Ujunggenteng, belum banyak lagi pantai yang masih hidden dan tidak terexpose kedunia luar. Sukabumi juga memiliki jalan yang menghubungkan antar kecamatan terpanjang, sehingga jarak antar kecamatan yang terjauh sampai memerlukan waktu tempuh hingga 5-6 jam perjalanan?.

Apa yang menambah unik Sukabumi? kini pemerintah begitu mendukung berbagai pendirian Pabrik – Pabrik di sepanjang jalan utama Bogor – Cianjur yang notabene nya wilayah Sukabumi Utara, dari mulai Caringin, Cicurug, Cidahu, parungkuda, Cibadak, Cisaat, Sukaraja, bahkan Cikembar pun tak luput dari pengembangan Pabrik sebagai keunikan tambahan sukabumi, APAKAH Sukabumi INGIN meniru JABODETABEK dengan warna pabrikasi yang bikin sumrawet JALAN??? atau memanfaatkan kemiskinan sebagai modal BURUH MURAH dengan tenaga kerja ANAK DIBAWAH UMUR dan KURANG BERPENDIDIKAN. BUKANNYA PEMERINTAH SUKMAWIJAYA KATANYA KONSEN DIBIDANG PENDIDIKAN sehingga Insfraktuktur menjadi prioritas cadangan???? Sukabumi sejak dulu terkenal akan religiusitasnya, Pesantren mulai yang salaf (pesantren konvensional) hingga modern tersebar di seluruh Kecamatan bahkan tingkat desa. Bahkan kemenangan Sukmawijaya  disebut – sebut sebagai kemenangan golongan agamis karena didukung penuh para ulama dan tentunya PKS sebagai motor terdepannya.

Namun, TERNYATA, dari segi akhlak dan moral masih jauh panggang dari api!! KEAGAMAAN dan RELIGIUSITAS masih sebatas SEREMONIAL, formalitas FISIK keagamaan dan SIMBOL SIMBOL yang tak menyentuh segi terdalam HATI manusia. BUDAYA politik uang DI setiap lini bidang kehidupan masih begitu ketara dan transparan, PERGAULAN BEBAS muda mudi yang tak jauh beda dengan BANDUNG, JAKARTA serta SURABAYA yang warna religinya RENDAH, Apa yang tersisa? Yang tersisa adalah hamparan tanah yang tak terurus, potensi wisata yang SELALU mentok dalam wacana, Generasi muda yang hanya dijadikan OBJEK pembangunan dan rencana kerja, SDM murah yang terus diekpolitasi, Kaum Hawa yang terus dikirim ke barbagai mancanegara sebagai sumber DEVISA yang tak perlu menggunakan strategi perencanaan bisnis, PENDIDIKAN yang hanya sebagai AJANG BISNIS menggiurkan KALANGAN TERDIDIK, serta potensi masyarakat TAK TERDIDIK yang memiliki TINGKAT KONSUMSI SANGAT TINGGI. JADI, jika saya sebagai calon BUPATI SUKABUMI, apa yang kira kira kira harus saya lakukan, KAWAN KAWAN??? Jawaban anda akan menjadi sumber tulisan lanjutan seri PILKADAL Sukabumi.

noted : tulisan direcycle dari tulisan sendiri 5 tahun yang lalu di Kompasiana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here