Oleh Hardy Hermawan

atret RIP
Artwork Mang Atret by Jiwenk

Atret adalah kenangan. Egon Hendi Faizal memasang  potretnya di grup soekaboemi heritage, di facebook yang beken itu, awal Maret 2009. Bahkan tanpa efek sephia pun, potret itu sudah sangat dramatis. Seorang tua, sendirian di kerumunan sampah, entah sedang menyantap apa. Mungkin limbah pasar. Pandangannya kosong.

Dari secarik potret itu, kenangan itu mengalir. Masa kecil dari banyak generasi terurai. Atret, entah siapa pula nama aslinya, adalah teman bagi siapapun yang pernah menjadi kanak-kanak di Sukabumi. Ia sangat mudah ditebak. Lewat berjalan kaki, membawa gembolan, lalu berhenti jika sebongkah batu diletakkan di hadapannya. Atret dan gembolan yang dipitingnya akan berjalan maju lagi, setelah mundur beberapa tapak, menyingkirkan si batu penghalang yang diletakan anak-anak yang mengodanya. Begitu ia lakukan selama puluhan tahun. Dari sanalah ia beroleh julukan Atret (dari bahasa Belanda: achteruit. Artinya: Mundur. thx to Bambang Setiawan).

Tentu saja, ia tidak waras. Syahdan karena kelewat terobsesi ingin mengendari mobil. Nendi Afghani sudah menggodai Atret ketika ia masih di SD, di akhir tahun 60-an.

Betapa takjubnya Nendi melihat sosok Atret masih seperti yang ia lihat 40 tahun silam.

Dan Nendi tidak sendirian. Sekali lagi, Atret adalah kenangan buat semua semua orang.  Potret yang dipasang Egon mendapat komentar paling banyak, paling responsif, paling rame, dibanding semua foto yang ada di grup soekaoemi heritage. Mungkin karena Atretlah, sebenarnya, sang “soekaboemi heritage”.

Ia  mewariskan kegembiran dari generasi ke generasi–dan itu terhambur kembali ketika potretnya mendunia di ranah maya. Rute jelajah Atret yang luar biasa membuat lebih banyak orang bisa menemukan lagi kepolosan masa kecilnya. Atret lebih fenomenal dari orang tak waras lain di Sukabumi. Saya membaca di blog Bambang Setiawan (http://startfromsprouts.blogspirit.com) tentang para “kolega” Atret. Ada Oyay, ada Kaliwon. Bambang pernah tinggal di Sukabumi pada 1955-1973.  Saya kira, Oyay dan Kaliwon  tak bisa membandingi popularitas Atret. Bahkan Bupati, Walikota, Dandim, Kapolres, juga mantan-mantannya, tak akan seternama Atret.

Mungkin sudah hampir setengah abad Atret menjadi bulan-bulanan orang. Padahal, selama kurun itu pula, ia memberi kita rasa senang. Memberi kita begitu banyak tema percakapan. Memberi rasa takjub dan heran.  Dan kita masih membulan-bulaninya di internet. Ada yang mengusulkan agar dibuatkan fansgroup untuk “si emang”  yang memang ngangenin ini. Wajar. Insting bercanda urang Sukabumi akan spontan meledak jika sudah membahas sosok legendaries ini. Saya sendiri tak henti terbahak selama bermenit-menit setiap membaca postingan tentang Mang Atret—bahkan setelah membaca postingan sendiri sekalipun.

Beberapa hari potret sang fenomenal itu terpampang. Hingga kemudian saya menyadari, saya kira, kita tidakfair. Atret sudah begitu baik. Tak pernah “nangkeupan awewe,” jarang marah, malah murah senyum. Batu yang sangat kecil pun ia hormati. Di hadapan batu itu, ia pasti akan berhenti berjalan dan melakoni ritualnya. Mundur satu dua langkah, maju, membuang batu, berjalan lagi.

Atret seharusnya mendapat perlakuan lebih pantas. Bupati dan Walikota Sukabumi sudah kerap berganti, pasar-pasar banyak direnovasi dan sebagian premannya mati. Ribuan malam berlalu. Ia masih kapiran. Mengais-ngais sisa makanan di Pasar Pelita, di Pasar Gudang. Mungkin ia sudah tak kuat lagi berjalan hingga Pasar Cisaat. Mungkin sudah 75 tahun lebih umurnya. Mungkin tak lama lagi ia tiada tanpa sempat mendapat balasan apapun dari jutaan orang yang terbahak, setelah ia memenuhi “rikues” lagu “pakuluman.”  Percayalah, Atret tak akan pernah meminta balasan itu.  Ia orang yang sangat baik. Saya berharap, ia hidup 1000 tahun lagi….

Catatan Redaksi :

Mang Atret alias Dadun Bin H Khodir wafat pada tanggal 5 Januari 2015 kemarin di RS Bunut, dan doa mengalir dari ribuan orang via social media baik FB dan Twitter. Tulisan ini di ambil atas seijin penulis dari group Soekaboemi Heritages.

200th SoekaBoemi