Pada hari Senin tanggal 8 Juli 2013, Cikananga Wildlife Center (PPSC) telah melakukan petunjuk IUCN untuk menglepasliarkan satwa hasil sitaan berupa 2 Elang ular bido (Spilornis cheela) ke alam / habitat alaminya di area terpilih, Takokak, Cianjur. Release sering dipertimbangkan sebagai pilihan paling populer setelah melewati masa atau proses rehabilitasi di pengkandangan rehabilitasi pusat-pusat penyelamatan.

Dari tahun 2001-2013, PPSC (Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga) telah merawat elang sejumlah kurang lebih 100 individu, dan saat ini terdapat 34 individu dari berbagai macam jenis, diantaranya Elang jawa (Nisaetus bartelsi), Elang brontok (Spizaetus cirrhatus) fase gelap dan terang, dan Elang ular bido (Spilornis cheela). Elang-elang tersebut berasal dari kegiatan penegakan hukum yang bekerjasama dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) melalui sitaan, serahan sukarela dan translokasi dari lembaga ex-situ lain. Elang dirawat dalam 3 tahapan penting yang sesuai dengan prosedur. Setiap elang yang baru masuk ke PPSC, sebelumnya harus melalui kandang karantina, kemudian kandang sosialisasi dan selanjutnya ke kandang pre-release. Setiap tahapan kandang yang dilalui memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Yang terkahir adalah pembangunan kandang habituasi di area penglepasan untuk mendapatkan proses adaptasi bagi satwa yang akan di-release

Secara garis besar, tahapan / proses kegiatan yang telah PPSC lakukan, sebelum penglepasliaran, diantaranya adalah pertama Kajian jenis (Species Assessment) yang meliputi pemerikasaan kesehatan pada saat kedatangan sampai pada proses rehabilitasi di PPSC. Profil Elang ular bido dan data kesehatan). Sejak tanggal 22/10/2013, 6 individu elang tersebut kemudian ditempatkan pada kandang rehabilitasi untuk mendapatkan perlakuan persiapan pelepasliran kembali ke alam. Akan tetapi berdasarkan hasil observasi dan penilaian (Species Assessment) yang dilakukan oleh sukarelawan PPSC (Inge Tielen MSc- The University of Wageningen)  terhadap 6 individu tersebut, saat ini hanya 2 individu yang benar-benar dinyatakan layak untuk dilepasliarkan.

Tabel Daftar satwa yang dilepasliarkan

No

Nama Indonesia

Nama ilmiah

Nama panggilan

Asal satwa

Tanggal penerimaan

No reg satwa

1

Elang ular bido

Spilornis cheela

HOKI

Penyerahan dari Warga Jampang Tengah, Sukabumi

20-06-2012 

C-12-A-Sch-75

2

Elang ular bido

Spilornis cheela

AUGUST

Translokasi dari KONUS-Bandung

17-08-2005

C-05-A-Sch-71

Kedua adalah Kajian penilian habitat (Habitat Assessment); Persiapan pelepasliran ini kemudian ditindaklanjuti dengan survey lokasi potensi penglepasliaran (Habitat Assessment) yakni di kawasan Cagar Alam Takokak. Survei dilakukan selama 3 minggu di beberapa titik lokasi sekitar kawasan Cagar Alam.  Kegiatan ini dilakukan dibawah koordianasi Inge Tielen MSc (The University of Wageningen). Dari 8 titik lokasi yang disurvei dalam survei kelayakan lokasi penglepasliaran, berdasarkan hasil kajian tersebut ditunjuk kawasan Parabon sebagai lokasi penglepasliaran.

Ketiga adalah Penyadartahuan dan pendidikan lingkungan (Awareness and Education program); Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan survey potensi habitat. Kegiatan ini dilakukan dengan kunjungan dan diskusi informal terhadap masyarakat sekitar kawasan. Serta kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada disekitar kawasan untuk menyampaikan nilai penting keberadaan satwa dan habitatnya disekitar kawasan mereka. 

Kegiatan Release

Beberapa tahapan kegiatan yang dilakukan untuk mendukung penglepasliaran 2 (dua) ekor Elang ular ini, diantaranya adalah: pertamaPemeriksaan medis / kesehatan terakhir, keduapemasangan tanda pada sayap dan/atau cincin IBBS yang bertujuan untuk memudahkan identifikasi dalam proses monitoring paska penglepasliaran. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan Raptor Indonesia, Suaka Elang dan IBBS-LIPI (Indonesian Bird Banding Scheme-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ketiga Pembuatan kandang habituasi dan proses habituasi untuk yang merupakan proses tahap akhir sebelum elang tersebut dilepasliarkan. Elang tersebut ditempatkan pada kandang yang dibangun di lokasi penglepasliaran berdasarkan rekomendasi dari hasil kajian habitat dengan ukuran 10 m x 8 m x 4 m (PxLxT). Kandang tersebut dibangun dengan melibatkan masyarakat setempat dan sukarelawan. Setelah kandang terbangun, elang ditempatkan pada kandang tersebut untuk proses habituasi selama satu minggu untuk diamati tingkat adaptasinya terhadap habitat barunya. Selama proses ini elang akan dipantau dari segi perkembangan perilaku dan kesehatan, dengan melibatkan para sukarelawan dan masyarakat sekitar.

Monitoring pasca penglepasliran


Monitoring paska penglepasliaran akan dilakukan secara intensif selama minimalnya 21 hari paska pelepasliran. Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan para sukarelawan dari berbagai pihak termasuk masyarakat setempat. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat perkembangan tingkat adaptasi dan daya tahan elang yang dilepasliarkan sehingga menjadi bahan parameter dan rekomendasi keberhasil program penglepasliaran. (Iryantoro/iing – Press Release)