Suasana Pertemuan Alumni/foto doc Harry 
Terbilang sekitar sepuluh hari sebelum Sabtu, 16 Maret 2013, 21 alumnus SD dan SMP Kehidupan Baru (KB) mayoritas lulusan SD 1970 dan SMP 1973 berkumpul kembali. Rata-rata mereka baru bertatap muka setelah lebih dari seperempat abad berpisah. Sambil melepas rindu dan menanyakan kemana dan dimana rekan lainnya yang belum sempat hadir di Aula SD KB di jalan Martadinata No 61 Sukabumi, mereka menggodok gagasan segar, memajukan mantan sekolahnya dulu.
Keistimewaan lainnya, pertemuan kali ini selain dihadiri mayoritas alumnus yang tinggal di Sukabumi, Jakarta dan Bandung, juga dihadiri perwakilan yang tinggal di Lombok (NTB), Kalimantan dan Papua. “Alumnus di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia pun, kami pasok beritanya secara on line melalui jejaring sosial”, tutur Tina Nurzaina, lulusan SD 1970 yang kini tinggal di Jakarta.
“Dalam 15 tahun terakhir. Baru sekarang ada alumnus berkumpul dalam jumlah cukup besar. Pernah ada alumnus mengutarakan maksud yang sama, tapi tak berlanjut”, tutur Edward Gultom S.Th., Kepala Sekolah SD KB, ketika menyambut kehadiran alumnus yang rata-rata sudah bercucu. Menimpali sambutan hangat ini, alumnus memberi tepuk tangan khusus. Imbasnya, Gultom mewakili sekolah akan mengundang kumpulan alumnus ini secara khusus.
Rintisan  dan Pembagian Wilayah
Madonk Siregar, Wawan Budiarwan, Bintang Sumirat, dan Harri Safiari, adalah tim inti penggerak pertemuan ini. Tim inti bersama alumnus lainnya, menyepakati peristiwa ini sebagai rintisan bagi pertemuan rutin kelak. Gagasan praktis dan penting yang dicetuskan pada pertemuan kali ini, merumuskan ide dan gerakan nyata, demi kemajuan mantan sekolahnya dahulu serta warga Sukabumi pada umumnya. 
“Kongkritnya, akan kami godok lebih detil nanti. Peristiwa ini akan disebar ke alumnus se nusantara, termasuk yang di luar negeri. Ini kan sekolah legendaries, berdiri sejak 1948. Bersyukur, via jejaring sosial menit ini juga, sudah menuai reaksi positip dari rekan alumnus lain”, jelas Madonk dan Bintang sambil menunjukkan tanda-tanda itu melalui gadget yang dipegang Tina, yang kebagian tugas menjadi Koordinator Alumnus di Jakarta. “Senang sekali memegang amanah ini. Saatnya sekarang memberi sumbangsih bagi tanah kelahiran”, tambah Tina dengan perasaan haru dan gembira. 
Alumnus Teddy Ruspandi yang berprofesi sebagai kontraktor nasional di Jakarta, dalam waktu dekat ini tergerak akan meluncurkan program yang melibatkan alumnus untuk kemajuan sekolah ini. “Bentuk nyatanya belum bisa diumumkan sekarang. Intinya, rekan-rekan tadi sudah acc tinggal tentukan waktu dan teknisnya saja”, ujar Teddy yang diamini Fitri Nugrani, Tenty Nuryanie, dan Puri Poernomo sesama alumnus sekolah ini.
Keputusan penting lainnya yang bersifat teknis pada pertemuan ini, ditetapkan pula empat koordinator wilayah guna menjaring lebih banyak pelibatan alumnus terhadap mantan sekolahnya. Secara aklamasi, koordinator kewilayahan itu dipegang: Untung Pakpahan (Sukabumi), Harri Safiari (Bandung), Tina Nurzaina (Jakarta), dan Bintang Sumirat yang tinggal di Lombok (NTB) menangani wilayah Indonesia Tengah dan Timur.

SD Kehidupan Baru setelah 1 tahun renovasi


Historis Sekolah Kehidupan Baru 
Menarik menyimak fakta historis lembaga pendidikan (SD) yang berdiri sejak 1 Agustus 1948. Perintisnya, tiga tokoh pegiat kependidikan dan kemasyarakatan, Suretna, J.P. Zijderveld (berkebangsaan Belanda), dan Josanah Kartawitana mantan siswa Princess Juliana School te Sukabumi. Ketiganya, bersepakat menghidupkan kembali “lanjutan” dari Vereniging voor Soendanese Meisjes Scholen te Buitenzorg (Bogor), yang pernah beroperasi sebelum Perang Dunia ll.
Hasilnya, beroperasi kelas paralel dengan nama Christelijke Lagere School di alamat sekolah ini. Kala  itu nama alamatnya di Jalan Gunung Parang 47 Sukabumi (kini Jl. L.R.E Martadinata No 61). 
Pada era 1956 sempat tercetus dari Pengurus Kehidupan Baru yang disampaikan ke BPK (Badan Pendidikan Kristen) Jawa Barat, untuk menampung lulusan SD KB. Realisasinya, pada 1 Agustus 1960 dibuka SMP Kristen Kehidupan Baru di Jl. Syamsudin  No 55 Sukabumi. Sebelumnya di lokasi ini beroperasi SKP (Sekolah Kepandaian Putri) Negeri yang tak lama kemudian berpindah tempat ke daerah Nyomplong Sukabumi. Uniknya, SKP Kristen KB ini pun beroperasi bersamaan dengan SMP KB, namun ia redup pada awal tahun dengan seadanya. 
Sekedar catatan di lokasi yang sama, pada tahun 1980 pernah dibuka SMA Kristen KB. Lebih tragis dengan nasib adiknya SMP KB, lembaga ini hanya bertahan beberapa waktu saja. Penyebab dari semua permasalahan ini, amatlah bervariasi, diantaranya karena semakin banyaknya sekolah negeri yang berdiri dewasa ini dengan daya tampung dan fasilitas yang lebih banyak dan lebih baik.
Menurut kabar, pada era 2013 mendatang, bila gejala penurunan siswa SMP KB semakin menurun, kemungkinan besar mereka akan dipindahkan ke bangunan SD KB saat ini. “Saya tak tahu persis apa permasalahannya. Semua itu tergantung yayasan sebagai pemegang otoritas pengoperasian lembaga ini secara penuh”, jelas Gultom disela pertemuan “rintisan” alumnus SD-SMP KB.  
Uluran Alumnus 
Terbersit para alumnus kala itu (16/3/2013) akan membantu memecahkan  “kemelut” ini namun hanya sebatas hal yang tidak mendasar. Dalam pengertian, tak mencampuri urusan antara sekolah dan yayasan. “Sejauh kita bisa membantu kemajuan lembaga ini sebagai tempat bersekolah dulu, melalui cara yang elegan dan normatif, mengapa tidak kita lakukan. Manfaatkanlah potensi ribuan keluarga besar alumni”, kata Buana Putra Pribadi yang kini tinggal di Bogor dan dikalangan alumnus lulusan 1970-an kerap disapa Benny. Bak gayung bersambut, lontaran Benny disetujui rekan lainnya seperti Sukarwandi K, Yoseph Rizal, Tino Harkat, dan H. Ismet Memet.
Pembangunan Ulang SD KB   
Fakta menarik lain dari pembangunan “ulang” SD KB dalam satu tahun terakhir ini berpenampilan lain – menjadi gedung “megah”  berlantai dua. “Luasnya susut 600 meter persegi, dari  semula 4.300 meter persegi. Itu urusan yayasanlah. Ironinya, siswa tahun ini (2013/2014 Red.) kelas satu SD hanya 6 anak anak dari total 106 siswa”, lagi-lagi Gultom menjelaskan kondisi sekolah yang dipimpinnya dengan nada lirih.
Oleh karenanya sejumlah alumnus SD-SMP KB yang terdiri atas berbagai profesi, usai pertemuan ini (16/03/2013) mulai berhubungan satu sama lain memperbincangkan bagaimana menyelamatkan sekolahnya di jaman dahulu.  “Banyak cara memajukan kembali sekolah ini. Syaratnya sederhana saja, satukan dulu pendapat alumnus”, pungkas Yudi Indra B, lulusan SD KB 1971 . (Press Release)    
Penulis adalah Harri Safiari 085721273388  – destinasiamagz@yahoo.com | Alumnus SMP Kehidupan Baru 1973