Bagaimana jadinya bila semua potensi suatu dareah dikumpulkan salam sebuah event? potensi kedaerahan yang berbentuk kearifan lokal seperti kesenian, kuliner, komunitas, kerajinan dan memori kolektif di Sukabumi terkumpul menadi satu dalam satu kegiatan bersama yang bernama “Sadinten di Sukabumi”

Bahkan, bertahun tahun kita di Sukabumi kita mungkin belum mampu menghimpun memori kolektif terhadap Sukabumi? bagaimana mungkin dengan satu hari?
Namun, mimpi mewujudkan memori kolektif dalam satu hari itu mampu dihadirkan dalam sebuah event sederhana namun sangat membuat para peserta senyum-senyum, terperangah, bahkan mungkin terpana! 
Berawal dari keinginan senior-senior Forum Komunikasi Keluarga Sukabumi (FOKUS) untuk bersilaturahmi dengan komunitas – komunitas yang ada di Sukabumi sekaligus pengukuhan pengurus baru periode 2012 – 2017. Kemudian diterjemahkan oleh 5 orang penggiat lintas Komunitas yang terdiri dari Hendy Faizal (dari SoekaboemiHeritages, Omce (Art Designer), Deby (Tim Arenga Sugar), Fonna Melania (Lokatmala Batikly) dan Geri Sugiran AS (arsip.sukabumitoday.com) kemudian di Dukung Sesepuh Kaskus  Dedi Suhendra dan Andri Purbawiana (Kaskus regional Sukabumi), menjadi paket acara budaya, kuliner, seni, bazar produk kerajinan, silaturahmi komunitas yang dibungkus dalam “Sadinten di Sukabumi”
Prolog “Sadinten di Sukabumi”

Sukabumi merupakan sebuah entitas sekaligus identitas. Entitas sebuah pemukiman di lereng selatan Gunung Gede-Pangrango yang tumbuh pesat dan mulai dikenal secara global sejak 1813. Entitas sosial yang semula bermukim di beberapa titik pemukiman yang sebelumnya dikenal dengan Goenoeng Parang, lalu kemudian berpusat di Tjikole pada masa kolonial dan akhirnya kesatuan sosial masyarakat dengan nama ‘Soekaboemi’ mulai terkukuhkan untuk melingkupi beberapa desa/wilayah yang ada pada sekitar Tjikole seperti ; Parungseah, Tjitamiang, Dajeuhloehoer dan lain-lain.
Sukabumi menjadi sebuah identitas, ketika ia berelasi dengan dunia luar. Sebagai bagian dari entitas Priangan/Preanger (Bagian Barat), Sukabumi terhubungkan dengan wilayah-wilayah sekitarnya sekaligus dikenal hingga mancanegara karena komoditas yang dihasilkannya saat itu. Bagaimana Gamelan Sari Oneng telah dikenal sejak akhir abad 19 mengikuti keunikan komoditi kopi dan teh dari Sukabumi (Parakansalak, Sinagar, Goalpara dll) yang sudah dikenal puluhan tahun sebelumnya dikalangan bangsa-bangsa Eropa. 
Identitas ke-Sukabumi-an makin terasa dan dibutuhkan ketika perkembangan sosial budaya makin majemuk dan rapat. Hal ini karena identitas ke-sukabumi-an memiliki keunikan dan kekhasan khususnya secara sosial dan budaya. Semua sudah tahu dan mengenal bahwa salah satu dialek Bahasa Sunda terhalus berasal dari wilayah ini sekaligus menjadikannya salah satu benteng Budaya Sunda. Hal ini termasuk dengan masih terpeliharanya beberapa sub-entitas ke-sukabumi-an dalam bentuk komunitas lama yang masih terpelihara termasuk berbagai prosesi dan kesehariannya.
Merujuk pada keterpeliharaan dan kesinambungan entitas dan identitas Sukabumi, termasuk didalamnya pemahaman akan entitas dan identitas tersebut bagi generasi kini dan mendatang  maka diperlukan sebuah usaha untuk menjalin relasi serta komunikasi diantara para pihak yang memiliki keterkaitan dengan Sukabumi, baik sosial, budaya hingga fisikalitas dan memori.
Usaha ini diperlukan mengingat kemajemukan dan kerapatan kehidupan sosial saat ini sangat memiliki potensi untuk mengikis entitas dan identas ke-sukabumi-an tersebut.
Acara silaturrahiim dan pengenalan sosial budaya dalam sehari dengan mengambil bentuk ramah tamah terbatas undangan diantara pemilik entitas dan identitas ke-sukabumi-an dan eksibisi potensi sosial-budaya (festive/bazaar/pameran) yang bersifat terbuka untuk umum.
Sadinten di Sukabumi : seabreg kuliner hingga aksi extreme Lais ala Kasepuhan Sinarresmi
4 Buah Delman sudah menunggu di pintu gerbang menuju Auditorium BBAT yang jaman dulu dikenal “LandBouw”, dan dengan ceria ringkik kuda mengiringi perjalanan para tamu yang turun dari mobil menuju tempat silaturahmi. 
Abah Kasepuhan SinarResmi turun dari Delman

Among Tamu dari Member FotoKami

 

Disambut Among tamu, peserta langsung merasakan keramahan mojang jajaka yang dalam hal ini dilakukan oleh anggota lintas komunitas di Sukabumi. Masuk Ruang Auditorium di iringi musik Kacapi Suling yang didatangkan dari Kasepuhan SinarResmi Kampung Adat banten Kidul. 
Suasana silaturahmi dan kangen-kangenan langsung mewarnai Gedung yang masih baru itu. Laki-laki dan perempuan usia 40 – 50an tampak ceria, penuh keakraban dan terlihat suasana bahagia. 
Sementara di Halaman Sudah terpasang 6 ruang bazar berisi Kuliner Khas Sukabumi yang terdiri dari : Gecho, Laksa, Soto Mie Babat, Minuman Pala, Sepan cau, Sepan hui, Es Cingcau dan Rujak Petis. Semua siap melayani para pengunjung menikmati suasana kuliner Sukabumi secara gratis.

Geco Jl Mesjid depan Samsat pindah ke BBAT
menikmati Bubur sum sum kenari
Seuseupanan ala Kampung

Didalam, setelah satu jam Pengurus di kukuhkan, Komunitas – komunitas di Sukabumi seperti Soekaboemi Heritages, Kaskus Regional Sukabumi, FotoKami (Fotografer Sukabumi), BumiKreatif, perwakilan Komunitas Teater,  dan terakhir dari arsip.sukabumitoday.com yang memperkenalkan media online Sukabumi.
Jam Makan siang, sambil diiringi penampilan Captain Band dari Jakarta yang merupakan sumbangan dari salah satu Anggota Fokus pemilik dari group Band ini, para peserta tampak bersuka ria menyerbu kuliner yang sudah menunggu, suasana berubah jadi begitu meriah, sepertinya jadwal diet hari ini, BUBAR! 😀
Abah SinarResmi menikmati geco

Sementara itu tim kesenian Lais dari Kasepuhan SinarResmi sedang mempersiapkan diri, setelah puas berkuliner, peserta diarahkan menikmati seni tradisional yang sudah mulai tenggelam namun masih dipertahanin di Kampung Adat. 
Lais, Akrobatik khas Sunda
Dua buah bambu jenis gombong terpancang sejauh 7 meter dengan tinggi masing-masing 14 meter lebih, dua hari sebelumya bambu itu di bawa 8 laki-laki dari Bukit Prana menuju Lapangan samping Auditorium BBAT.

Seorang anak laki-laki usia Sekolah Menengah menghampiri salah satu batang Bambu, kemudian merangkak menuju ujung bambu di meter keempatbelas yang sudah tersambung dengan tali yang memanjang 7 meter di sebrang nya.

Dengan lincah, anak kemarin sore itu bergelayut dengan tenang di seutas tali itu TANPA PENGAMAN! pengalaman mungkin membuat anak itu dengan percaya diri bermain-main dengan permainan extreme penuh bahaya. Bahkan, atraksi ekstrim yang hanya 15 menit ini memperlihatkan si anak bergelayut hanya dengan lipatan kaki di tali dengan tangan dan badan menghadap ke bawah. 

Atraksi diakhiri gaya meluncur semi Spiderman sang anak dari ujung atas bambu menuju tanah dengan gaya kepala dibawah dan kaki diatas, bahkan mungkin spiderman akan terpana dengan tingkah si anak yang lepas tangan dalam meluncur turun.
Landbouw Connection, 24 Maret 2012
Semoga ini bukan akhir dari sebuah event penuh idealisme, kegiatan yang lebih bermakna yang akan mengangkat Sukabumi ke tingkat Global seperti Braga Festival di Bandung, Fashion Week Jember, dan lain sebagainya bisa hadir di Kota yang di bangun dari biji –  biji kopi dan Pucuk-pucuk teh (I Hendy Paizal)  
Sumber Foto :
Facebook group KaskusRegional
Facebook group FotoKami
Facebook group SoekaboemiHeritages
Special Thanks :
Dedi Suhendra, Febrian Gumilang, Yogi Asking dan Ahonk Yr  (Foto Kalian dahsyat bro)