Oleh :
I. Hendy Faizal (Egon)*














Diyakini, pembangunan Masjid Agung Sukabumi dilakukan menjelang abad ke 20 atau tahuntahun menjelang tahun 1900 (gambar foto diambil pada 1902 dari arah timur atau depan gerbang utara Mapolres saat ini). Pada masa ini sudah berdiri pusatpusat ke-Islam-an disekitar Sukabumi, salah satu yang tertua adalah Pesantren Goenoeng Poeyoeh sekitar 3 kilometer arah barat daya dari pusat kota/masjid. Masjid ini dibangun diatas tanah wakaf dari Keluarga Besar KH. Achmad Djoewaeni yang sekaligus menjadi mufti/imam besar Masjid Agung. Sebagai Mufti, KH. Achmad Djoewaeni juga bertugas sebagai penasihat religi bagipemerintahantradisional pada waktu Boepati RTA. Soeriadanoeningrat atau yang lebih dikenal dengan Dalem Geloeng. Dan beliau pula yang mengambil sumpah secar Islam Bupati Dalem Gelung pada pengukuhannya didepan Gubernur Jenderal Belanda pada sekitar tahun 1930 an.


Masjid Agung dibangun pertamakali menggunakan atap Bale Nyungcung (seperti dalam foto), bentuk atap ini muncul dikarenakan keterbatasan teknologi konstruksi dimana pada masa itu bangunan atap disangga oleh 2 perimeter (lapis) kolom luar dan dalam. Perimeter kolom luar adalah sekaligus penguat dinding sementara kolom dalam biasanya berupa empat (4) kolom yg berada ditengah bangunan (ruang solat) yg masingmasing berada pada sudut sebuah bujur sangkar. Kolomkolom inilah yang sekaligus menyangga atap tengah yang lebih curam (Nyungcung). Pola seperti ini dikenal pada model bentuk Masjid Demak yang dibangun oleh Sunan Gunung Djati yang menghasilkan tiang Soko Guru yg berjumlah empat tadi.



Model atap Nyungcung sendiri dipakai kembali sebagai sebuah filosofi bentuk yang asli Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru melalui bantuan pembangunan masjid di seluruh Nusantara lewat Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) yg diketuai Soedarmono (Wakil Presiden saat itu). Model masjid seperti ini adalah apa yang kita lihat pada Masjid Agung di Alunalun Cisaat Sukabumi dan Karang Tengah Cianjur, kedua mesjid mengadopsi atap bale nyungcung/tumpuk secara modern tanpa empat tiang ditengahtengah. Sementara kubah adalah model asli yang berkembang dari masa Romawi (Basilica di Roma, Parthenon di Paris) lalu dikembangkan di Timur Tengah dan justru sebenarnya bukan sebagai bentuk wajib bagi bangunan mesjid apalagi ciri Arsitektur Islam. Masyarakat kita terlanjur menganggap bahwa masjid harus selalu berbentuk kubah, karena kubah adalah ciri (warisan?) Islam, meski pada kenyataan tidaklah sepenuhnya benar. Model masjid yang mencoba keluar dari pakem ini selain Masjid YAMP tadi adalah Masjid Salman ITB di Jalan Ganesha Bandung, Masjid Pondok Indah di Jakarta, Masjid Al-Markaaz di Makassar dll.


Masjid Agung Sukabumi mengalami beberapa kali renovasi dan perubahan bentuk tanpa dibarengi dengan filosofi bentuk yang jelas dan kuat. Perubahan bentuk sangat kentara dalam bentuk atap. Perubahan ini terjadi antara lain pada tahun 1925 (perluasan sekaligus perubahan dinding dan penguatan atap bale nyungcung), 1945 (perluasan), 1950 an (perubahan atap bale nyungcung dgn kubah seng/metal), 1970 an (renovasi/perubahan kubah menjadi atap limasan?), 1996 (perubahan atap limas-an menjadi kubah beton spt saat ini) dan 2012 perubahan kubah beton oleh atap limasan yng terpasung kubah beton. Kurang jelas apa yang dijadikan dasar pada desain baru Masjid Agung Sukabumi yang baru dan sedang dibangun, tetapi jika menilik model atap dan detail ornamen yang dipakai saya secara teoritis bisa mengatakan bahwa model tersebut adalah model campuran alias gadogado yang justru tidak mencerminkan keSukabumi-an. Gaya campuran ini dalam teori Desain Posmodern dikenal dengan gaya Pastiche atau Eklektisme yang biasanya cenderung dijadikan istilah sindiran/satir. Coba nalar kita masukan dalam asumsi Arsitektur Nusantara (Sunda Besar) berupa Bale Nyungcung dengan Arsitektur Kubah Romawi Parsi, mungkin sah saja dalam tataran naratif, tapi ketika dihadirkan dalam bentuk fisik terlihat jelas kerancuannya ; model atap Bale Nyungcung yang tajam pada empat sisinya (jure), layaknya piramida yg terpotong oleh kubah lengkung halus gaya Parthenon ? Sebuah bentuk ironi antara tajam dan halus.


Lalu mengapa Pemerintah Kota Sukabumi memberikan verifikasi atau malah justru mereferensikan bentuk tersebut seperti yang tertera dalam desain baru saat ini tanpa pengetahuan tentang nilai filosofis yang telah ada sebelumnya?



Wallahu !



*Penulis yang lahir di Sukabumi adalah praktisi arsitektur, pengajar di jurusan arsitektur di almamaternya dan pendiri serta pengasuh komunitas Soekaboemi Heritages


Sumber Foto :
Pribadi | Institut Kerajaan Belanda u/ Daerah Tropis & Karibia – Leiden