Oleh :
Hendy ‘egon’ Faizal

Sekali dalam seminggu mengecap jalur jalan raya antara Benda/Cigombong hingga Gekbrong yang notebene berada di Wilayah Sukabumi baik kota maupun Kabupaten. Pengarungan jalur memang mengharuskan demikian akibat ladang tempat bekerja berada di sawah-sawah metropolitan Jakarta yang penuh dengan ‘bebegig-bebegig’ metropolis sementara keluarga berada dikota kelahiran. Dan karena kondisi pula yang kadang mengharuskan mengambil jalur Puncak demi kelancaran waktu tempuh perjalanan. Karena strategi atau korban akibat ‘pembangunan’ wilayah yang sporadis ?
Hal yang menarik sekaligus menyedihkan disepanjang jalur tersebut adalah jika kita perhatikan hampir sepanjang jalur tersebut penuh dan padat. Tidak saja kepadatan pada arus lalu lintas tetapi pada sekuens yang memenuhi kanan-kiri jalan.
Hampir semua bangunan tanpa terkecuali !
Mulai dari kawasan Cigombong hingga Gekbrong hampir tiada pemandangan yang cukup menyejukkan mata, sedianya pada masa kecil teringat kawasan Cigombong adalah hutan karet dengan beberapa pedagang Ge-Co disela-selanya. Lalu antara Cisaat-Cibadak hingga Cicurug masih banyak sekuen-sekuen pandangan yang bisa dilayangkan sejauh pandangan mata dengan hamparan sawah dan bukit diujung batasnya termasuk jajaran mahoni rindang atau pohon tanjung pada kanan dan kiri jalan, hal seperti ini juga termasuk dari Sukaraja hingga Gekbrong.
Tapi kini ? … lenyap !

Atas nama pembangunan atau bahkan akibat kesemena-menaan aturan atau malah ketiadaan aturan serta penerapannya semua menjadi lenyap. Koridor jalan menjadi masif dengan berbagai tembok bangunan, gerbang-gerbang pabrik hingga baligo-baligo promosi. Dan tentu saja kondisi ini diperparah oleh kepadatan arus lalu lintas dan perilaku. Meski Sukabumi termasuk wilayah rural (pinggiran?) tapi diyakini ia sudah kehilangan identitas ke-rural-annya, salah satunya akibat hal ini.

Coba lihat kawasan Cianjur, meski diakui mereka cukup kerepotan menata wilayah Puncak, tetapi mereka masih sanggup memertahankan beberapa kawasan seperti Cugenang, Karang Tengah, Sipon atau bahkan sekitar Warung Kondang. Dan harus diakui, tata kota Cianjur dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan sarana infrastruktur jauh lebih maju daripada Sukabumi, sekedar contoh coba perhatikan pembangunan jalan-jalan lingkar dalam kota di Cianjur.
Ini baru disandingkan dengan Cianjur, belum kota-kota pinggiran lainnya di Jawa Barat seperti Sumedang, Garut dll.
Pendatang luar kota kini mengenal Sukabumi layaknya kota-kota peripheral Jakarta lainnya seperti Depok, Bekasi atau Tangerang. Segalanya serba padat, tiada lagi peluang untuk menikmati keberadaan Sukabumi yang dulu terkenal dengan ke-asrian dan hawa gunungnya. Pendatang dari luar kini harus bersusah payah lebih masuk ke area yang lebih inferior untuk sekedar merasakan ke-Sukabumi-an, mereka harus menembus jalan-jalan desa di Kalapanunggal, Jampang hingga Pakidulan. Bahkan untuk kawasan seperti Cikidang pun kini telah penuh dengan tanaman-tanaman Sawit yg bukan ber-habitat di Sukabumi, kemana kebun-kebun teh dan pohon-pohon pinus itu ?
Bukan bermaksud menyalahkan pihak-pihak tertentu atau bahkan bermaksud menyalahkan jaman. Layaknya zetgeist bagi orang Jerman, kita justru telah kehilangan roh tersebut, semangat jaman kita sangat menghancurkan tanpa ada kesadaran komunal untuk lestari.
Dimana itu Gemah Ripah Loh Jinawi dan Reugreug Pageuh Repeh Rapih ?
Pada tingkatan pamong jauh panggang dari api, mereka terlalu sibuk dengan jargon-jargon. Mereka lebih senang busa-busa dimulut itu mengembang dengan indahnya. Sebatas menghasilkan aturan mereka merasa sudah berkarya, itu masih lebih baik meski kenyataannya mereka pula yang memangsa. Layaknya ular yang memangasa ekornya sendiri menuju kehancuran Ouroboros !
Lalu pada tingkatan warga, warga perlu amongan, perlu bukti bila sangat perlu kanon-kanon yg tegas agar warga selaras dengan pamong, agar warga bahu membahu dengan pamong, akibat kehilangan amat sanagt tersebut perilaku menjadi sesat dari nilai. Lihatlah perilaku amuk antar warga hingga perilaku dijalan raya, … kita bukanlah piranha bagi sesama !
Cecarkan pandangan mata ke sekeliling juga pandagan hati kedalam, yang terjadi adalah amuk kehendak, amuk kehendak pamong juga warga. Layaknya singa-singa pemburu yang mengoyak-ngoyak rusa buruan yang tidak berdaya, cabikan dimana-mana sehingga daging makin menipis tinggal tulang. Lalu mau kemana kehendak selanjutnya bila Sang Rusa sudah binasa ?
Matilah jargon-jargon itu karena yang diperlukan kejujuran, kejujuran yang dimulai atas niat, karsa dan karya dari kita.
Binasalah kehendak-kehendak lacur itu karena yang diperlukan hanyalah keluhuran, keluhuran yang dimulai atas niat, karsa dan karya.
Meski mungkin terlambat, masih ada harap untuk berteriak ;
KEMBALIKAN SUKABUMI-KU !
Jakarta, 21 Desember 2011
sumber foto : pikiran-rakyat.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here