Oleh :

Apa yang menjadi pokok pemikiran dari tulisan Bre Redana yang dimuat di Kompas edisi Jumat 9 Desember 2011 merupakan bentuk keprihatinan yg sudah jauh didengung-dengungkan sebagai kritik pada awal masa perkembangbiakan postmodernisme pada paruh ketiga abad 20. 
Nietzche bahkan telah jauh-jauh sebelumnya memalu kemapanan modernitas dengan keyakinan mbalelo yg dinilai khalayak cenderung pesimis. Dan dalam rentang waktu itu pula kritisme akan kondisi kemasyarakatan muncul, entah itu Habermas, Derrida dan Foucault yang menyorotinya melalui teks, Baudrillard lewat simulakra-nya hingga Delleuze & Guattari juga Venturi dan Libeskind melalui kacamata arsitektur. Dan dalam ranah skolarisme lokal kitapun mengenal Yasraf Amir Piliang dan Bambang Sugiharto yang memiliki kekhawatiran yang sama atas itu semua.
Dipikir kondisi pasca-modern (postmodernitas) sudah selesai di Indonesia pasca lepas milenium kemarin, nyatanya ia beranak pinak dan menggurita dalam relung kemasyarakatan. Betapa tidak, kondisi masyarakat indonesia yang cenderung transisional antara tradisional-modern, mudah goyah dan bahkan mudah terjebak dalam limbo kontemporaritas. Masyarakat kita adalah bentuk nyata anomali yang mengendap lama dalam permukaan bejana kebudayaan global. Ia merupakan bentuk anomali yang sebetulnya justru mudah sekali goyah disaat yang lain kuat ketika bejana digoyangkan. Ia terbelakang tapi ia cerdas, ia kaya tapi ia miskin dan ia latah tapi terlalu percaya diri !
Kondisi seperti inilah rupanya yang termanfaatkan oleh kita sendiri melalu kebebalan kehendak dan dimanfaatkan oleh tentakel-tentakel kapitalisme disaat kita sendiri justru sadar bahkan cenderung chauvanistik.
Tidak usah jauh-jauh, budaya plesetan adalah juga bentuk kenyinyiran sebagian masyarakat kita akan kontemporaritasnya sendiri. Begitu banyak masyarakat kita yg bangga akan kesamaan bentuk tanpa ia mengerti isi atas nama modernitas berjamaah. Sejatinya ini merupakan ciri dari salah satu kondisi posmodrnitas yang melulu menampilkan kecintaan akan kulit luar dengan menapikan hakekat.
Rupanya masyarakat kita tidak pernah beranjak, malah ia semakin terjebak…
Lalu sampai kapan ia bisa tersembuhkan atau sekedar terjaga benar? … kecarut-marutan sistem kehidupan (baca : bernegara) adalah salah satu hulunya, hal ini pula yang diamini oleh Bre Redana. Kecarut marutan yang terjadinya ini jelas memberikan efek luar biasa dalam pencarian posisi kemasyarakatan kita yang pada akhirnya masyarakat (semua golongan) secara sadar tidak sadar mencari sendiri kejatidiriannya (status). Dan sistem kapitalisme (dan teknologi?) melalui barang juga pasar mengobati dahaga itu semua, dahaga akan kejatidirian !
Sungguh kita semua tersesat dalam limbo…
Menjadi Masyarakat yang gentayangan diantara realitas dan hiperealitas…
Selalu tersesat dan terjebak…
*prolog/pengantar pribadi untuk mengantar tulisan dibawah yg dimuat KOMPAS halaman 45 Edisi Jumat Desember 9, 2011

| Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia |

# Oleh BRE REDANA
Apakah Anda bangga bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta.
aya sama sekali tidak bangga, bahkan prihatin. Kemajuan teknologi komunikasi telah sampai pada suatu paradoks: dia memisahkan, bukan menghubungkan. Benar, dia menghubungkan seseorang dengan mereka yang jaraknya jauh dari lingkungan fisik-sosial. Hanya saja, sebaliknya pada saat bersamaan orang itu tercerabut dari ruang sosial di mana secara fisik kita semua hadir.
Bercampur dengan semangat hiperkonsumerisme, manusia-manusia yang telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu (dalam bahasa lebih filosofis mikrokosmos-makrokosmos) mengalami apa yang diistilahkan Benjamin Barber sebagai civic schizophrenia alias kegilaan warga.
Inikah yang dalam perbendaharaan lama disebut zaman edan? Pergeseran manusia dalam menghayati ruang dan waktu—yang secara eksistensial berarti bergesernya penghayatan atas makna hidup—terungkap dalam seluruh praktik kehidupan kita. Dari kehidupan pribadi sehari-hari di ruang privat sampai ke kehidupan sosial, termasuk di dalamnya dinamika politik.
Popularitas seorang pemimpin diukur lewat jajak pendapat menggunakan perangkat komunikasi masa kini yang disebut gadget. Di sana, politik menjadi bagian ”waktu luang” atau leisure dalam teori Thorstein Veblen atau free time dalam istilah Theodor Adorno.
Politik waktu luang adalah politik orang-orang iseng kelas menengah, kebanyakan waktu, kehilangan kontak dengan rakyat kecil yang banting tulang tak punya waktu luang. Realitas sosial tergantikan realitas maya dan terefleksikan dengan sempurna oleh televisi. Apa yang ada di televisi itulah realitas.
Kedermawanan presiden dan perhatiannya kepada rakyat kecil, misalnya, ditunjukkan lewat televisi dengan bagaimana ketika presiden mantu rakyat diperbolehkan ikut menikmati resepsi lewat layar lebar yang dipasang di lapangan. Perhatian presiden terhadap seni budaya ditunjukkan dengan presiden bergitar, menciptakan lagu.
Media massa kita, terutama media elektronik, menjadi penyokong utama dari apa yang kemudian diistilahkan para ahli sebagai politik pencitraan. Mereka menciptakan impresi instan, bukan pencatatan sistemis tentang kinerja.
Semua orang sadar betul mengenai hal itu sekarang. Maka, pidato di televisi, gaya rambut, model baju seragam, dan motif batik lebih penting daripada upaya sistemis menyelesaikan pekerjaan. Ini bukan hanya berlaku untuk kalangan politik. Pekerja perusahaan swasta juga dianggap sudah berprestasi jika bisa memberi impresi mengenai apa yang dikerjakan lewat presentasi dibantu program Power Point. Kinerja semu? Mungkin saja, soalnya ada buku yang topiknya lebih kurang: real CEO doesn’t use Power Point. Dia memilih memberi kacang ijo biar menu rakyat lebih bergizi.
Makna lebih jauh dari politik pencitraan adalah politik yang kehilangan kontak dengan realitas. Serupa dengan modus komunikasi zaman ini: orang terhubung dengan mereka yang jauh, tetapi terputus dengan ruang sosial secara fisik. Realitas fisik jadi kedodoran.
Untuk urusan pribadi, Anda silakan merefleksikan hubungan Anda sendiri dengan orang-orang terdekat. Menyebar wabah defisit atensi. Untuk lingkup sosial lebih luas, silakan lihat penelantaran kesejahteraan rakyat. Rakyat tambah miskin, murid-murid SD belajar di bangunan serupa kandang kambing, jembatan runtuh, dan seterusnya.
Apa yang dibanggakan?
Cukup banyak yang menyoroti konsekuensi digitalisasi kehidupan sekarang. Salah satunya, Nicholas Carr lewat buku The Shallows (2010). Anda bisa mengetahui di sana bagaimana internet mengubah cara kita berpikir, membaca, dan mengingat.
Di sana, dia membandingkan dua cara membaca. Pertama, membaca teks secara linear. Ini terjadi saat membaca buku, koran, atau majalah. Yang kedua, membaca teks secara berlapis-lapis atau diistilahkan hiperteks. Ini seperti ketika membaca lewat layar komputer, cara scrolling memungkinkan kita membaca berbagai teks secara bersamaan. Yang terakhir itulah yang ditawarkan teknologi multimedia atau lebih lanjut menjadi hipermedia.
Berbagai hasil penelitian dikutip di sana. Yang paling menonjol, ternyata penyerapan orang dalam pembacaan hiperteks jauh lebih rendah daripada pembacaan secara linear. Para dosen perguruan tinggi tempat penelitian dilakukan mengakui, para mahasiswa tidak betah berfokus pada satu hal. Perhatian dan fokus terus berpindah-pindah. Para peneliti menyimpulkan, teknologi multimedia tampaknya lebih membatasi daripada meluaskan kesanggupan seseorang mengakuisisi informasi.
Kita memiliki cognitive load—mungkin bisa diterjemahkan sebagai muatan kognitif? Kalau kebanyakan informasi yang mengalir ke sana melebihi muatan kognitif, maka seperti air, air akan tumpah. Kita tak sanggup memerangkap informasi itu atau menarik hubungan dengan informasi lain yang telah tersimpan sebelumnya di memori. Dengan kata lain, informasi hanya berseliweran, tak nyangkut di memori, apalagi membentuk pengetahuan koheren.
Maka, tidak banyak orang sekarang mampu berpikir koheren. Yang dikuasai cuma informasi sesaat. Itu yang secara cerdik diindustrikan media, menjadi komoditas laris bernama gosip. Yang disebut analisis politik sekarang sebenarnya rekonstruksi gosip. Di sini, sebenarnya media cetak harus ambil peranan. Dia diharapkan mempertahankan sivilisasi.
Yang dibangga-banggakan orang dengan multimedia sekarang—di mana orang katanya bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking)—sebenarnya ”terampil pada tingkat superfisial”. Ingat kata-kata filsuf Roma, Seneca, sekitar 2.000 tahun lalu: berada di mana-mana berarti tidak di mana-mana.
Ketergesa-gesaan, ketergopoh- gopohan, adalah ciri masyarakat masa kini. Munculnya jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, mengakselerasi ketergopohan itu. Mereka menekankan pada kesegeraan dengan istilah yang dikenal para penggunanya sebagai status update. Kalau perlu, barusan buang angin pun diberitahukan ke seluruh dunia. Untuk bisa selalu update, orang terus-menerus memelototi Blackberry.
Apanya yang harus dibanggakan dengan itu semua?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here