Berkembangnya city branding adalah buah dari otonomi daerah. Setiap daerah berusaha untuk mengembangkan daerahnya agar kesejahteraan daerah tersebut meningkat. Stasiun televisi lokal yang menjamur pada beberapa tahun silam dan perusahaan penerbangan lokal yang melayani antar kota khususnya di bagian timur Indonesia mengarahkan pandangan setiap kepala daerah untuk terus menjual potensi yang ada di daerahnya.
Wilayah Indonesia yang luas merupakan pasar yang besar untuk diolah oleh para investor. Namun, bagaimana para investor ingin mengolah suatu daerah jika informasi yang mereka dapatkan tentang daerah tersebut sangat terbatas. Informasi umumnya melalui berita dan seperti yang kita ketahui saat ini sebagian besar berita yang mendapat perhatian lebih adalah berita-berita yang cenderung negatif, misalnya bencana alam, bentrokan sipil, tawuran pelajar, korupsi dan lainnya. Jarang sekali berita-berita yang mengedepankan kelebihan atau keunggulan suatu daerah. Oleh karena itu branding adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan suatu wilayah dengan mengedepankan keunikan dan keunggulan daerah tersebut.
Melalui branding yang kuat, sebenarnya kepala daerah akan lebih mudah untuk memasarkan dan menarik investor untuk mengembangkan daerahnya. Mereka dapat menjelaskan dengan mudah bagaimana keadaan wilayah yang dia kepalai dan keunggulan apa yang dimiliki sebagai sumber usaha. Disini terletak hubungan antara city brandingdan city marketing.
Terdapat perbedaan antara city branding dan city marketing, seperti sebuah organisasi.  Maka sebelum marketing berjalan kita harus memiliki produk/service yang membutuhkan brand sebagai identitas. Oleh karena itu, city branding harus dilakukan terlebih dahulu sebelum city marketing direncanakan. Setelah esensi diketemukan dan disetujui oleh pemilik brand yaitu daerah tersebut maka jalur-jalur komunikasi marketing mulai dipersiapkan.
Banyak program marketing yang dapat dilakukan untuk city branding. Salah satunya  melalui aplikasi Mobile City Guide yang saat ini mulai marak. Dengan aplikasi ini masyarakat dapat mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang daerah tersebut. Seperti apa saja keunggulan daerah, di mana saja akomodasi jika hendak berkunjung, hingga fitur suara dengan aksen dan bahasa dialek daerahnya. Contoh kota yang telah berhasil adalah seperti yang dilakukan oleh tim branding kota Yogyakarta dan Solo.
Yang perlu ditekankan disini adalah jangan sampai city branding hanya menjadi kinerja kepala daerah pada saat itu dan selesai setelah kepada daerahnya digantikan oleh calon yang baru. Branding tidak diciptakan karena sesuatu yang kebetulan dan instan.  Karena memerlukan proses untuk diserap, dimengerti, dan dihidupkan oleh semua pihak yang terlibat di daerah tersebut.

Mari Menggagas City Branding Sukabumi
Nah, Bagaimana dengan Sukabumi ? Apa sebenarnya branding Sukabumi ? Saya, dan saya yakin anda pun sama, akan tertegun sejenak bila diberikan pertanyaan tersebut. Bukan apa-apa, selain karena kita memang tidak tahu dan tidak yakin branding seperti apa yang saat ini dikembangkan oleh pemerintah daerah. Yang jelas, diakui atau tidak, saat ini branding tentang Sukabumi lebih dikenal oleh orang luar Sukabumi sebagai daerah yang identik dengan “Kemacetan“. Kondisi inilah yang sering dikatakan orang pada saat bicara atau diajak ke Sukabumi. Padahal sebenarnya permasalahan kemacetan bukan saja terjadi di Sukabumi tetapi terjadi dihampir seluruh daerah (bahkan lebih parah).
Ada juga yang mengatakan bahwa brand Sukabumi itu sejuk dan asri. Tapi benarkah kondisi itu menggambarkan kondisi kekinian Sukabumi ? Kondisi ketidakteraturan iklim global akibat dampak rumah kaca berpengaruh kepada seluruh wilayah didunia, termasuk Sukabumi. Makanya tak heran, cuaca Sukabumi kadang sejuk, tapi juga terkadang panas dengan cuaca yang ektrim (tidak biasanya).
Kedua contoh brand diatas adalah sekelumit gambaran agar kita menyadari saatnya sekarang kita membenahi masalah City Branding ini. 
Untuk menggali branding dari suatu daerah bisa dilakukan dengan melihat visi dna misi Kota/Kabupaten Sukabumi, melakukan wawancara secara mendalam dengan kepala daerah tersebut tentang apa yang menjadi visi misinya terhadap daerah yang dipimpin, apa yang ingin dia sampaikan kepada pihak luar tentang daerahnya, apa yang daerah lain tidak miliki yang dimiliki oleh daerah tersebut. Juga ditanyakan kepada pihak swasta yang sudah beroperasi di daerah tersebut, mengapa mereka memutuskan berada di daerah itu untuk berusaha. Penggalian pun dilakukan dengan pihak luar, tentang persepsi mereka terhadap daerah tersebut. Dari hasil penggalian tersebut akan di olah oleh konsultan brand untuk didapatkan sebuah esensi yang menjadi milik dari daerah tersebut, tidak oleh daerah yang lain. 
Kalo begitu, ayo kita melihat sekitar kita dan bersama-sama mulai menyusun daftar apa saja yang bisa anda usulkan untuk city branding Sukabumi… 
Penggagas : Endud Badrudin — www.KangEndud.web.id —