Kasihan, Sungguh kasihan nasib Ujunggenteng yang menjadi primadona wisata alam dan pantai di selatan Sukabumi. Berbondong-bondong para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk sekedar menikmati pelepasan tukik atau penyu hijau bertelur, berpuluh2 mobil memadati pesisir pantai yang masih perawan dengan fasilitas yang seadanya.

Yah, Ujunggenteng yang jadi kebanggaan masyarakat sekitar justru hanya dijadikan “sapi perah”an pemerintah baik itu daerah maupun pusat. Banyak program yang dicanangkan, retribusi terus digenjot, corporate diberi tempat untuk iklan. Sedangkan Ujunggenteng tetap lah seperti itu, jalan rusak dari ujung ke ujung, fasilitas yang tak pernah bertambah, bahkan yang ada pun entah kapan diperbaiki.
Bayangkan, wisatawan dengan bis membutuhkan waktu 6 jam dari Sukabumi ke Surade, 1,5 jam dr Surade ke Pondokan di pesisir Ujunggenteng. Harga penginapan terus membumbung, tak ada penyeragaman harga dari pemerintah karena emang tak ada pengelolaan kawasan wisata Ujunggenteng. Personal berlomba mendapatkan berkah Ujunggenteng, tanpa memikirkan bagaimana ujunggenteng sebagai kawasan wisata.
Sampai kapan kawasan yang terkenal sebagai “hidden paradise” ini akan terbengkalai. Sedangkan tiap hari pengunjung membayar retribusi di mulai masuk sampai di setiap kawasan wisata. 
Bagaimana dengan pengelolaan kawasan wisata? lebih parah, tak ada “Safety Guard” disini, himbauan untuk tidak berenang dikawasan pantai yg arusnya berbahaya hanya diwakilkan kepada spanduk yg dipasang serta himbauan para pengelola pondok.
Demikianlah potret buram kawasan wisata yang menjadi andalan kabupaten Sukabumi yang sampe saat ini masih miskin dan terbelakang, mau dibawa kemana? nunggu dibeli swasta?