[Opini] Se-per 4 sehat – dua, 5 sempurna

0
7
botram di ciptagelar
ilustrasi menu sempurna – foto botram di Ciptagelar koleksi redaksi SukabumiToday

Ada beberapa hal yang kemudian menjadi semangat tercetusnya slogan 4 sehat 5 sempurna. Tepat 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Rakyat menyambut peristiwa ini dengan kegembiraan yang tiada tara. Puing-puing sisa penjajahan perlahan disusun kembali menjadi pundi-pundi yang bisa membangkitkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang diakui oleh dunia.

Pembangunan gencar dilancarkan di berbagai lini. Pun untuk perkara kesehatan jasmani. Adalah Poorwo Soedarmono, seorang profesor juga ahli gizi yang memahami bagaimana dan apa harusnya makanan yang ditelan bangsa Indonesia agar tubuhnya senantiasa sehat walafiat. Di tahun 50-an, beliau mencanangkan pola 4 sehat 5 sempurna yang terdiri dari; makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, juga susu (bila mampu). Terkesan mirip memang dengan pemenuhan rukun Islam terakhir, Haji (bila mampu) tapi saya sepakat untuk tidak secetek ini membahas masalah agama tersebut.

Tapi benarkah kini pola 4 sehat 5 sempurna itu pas berlaku? Keadaannya sekarang justru banyak menuai kritik terhadap pola itu. Buncitnya perut pejabat atau cukong kaya bukan jaminan atau ukuran kesehatan dia. Piramida makanan sehat juga Pola Gizi Seimbang (PGS) sebagai jawaban urusan ini pun kian diutarakan dalam berbagai kesempatan. Situasi juga kondisi objektif awal-awal kemerdekaan dengan hari ini memang berbeda. Sebuah teori pun pastinya beradaptasi dengan perubahan sosial yang ada.

Memetik kalimat dari puisi sang penyair Romawi sana “Mens Sana Incor Pore Sano” yang berarti “jiwa yang sehat terkandung dalam raga yang sehat” ternyata bukan berhenti sampai di situ. Puisi itu dirangkai untuk menyikapi bobroknya keadaan bangsa Romawi saat itu. Dan sempurnanya sehat itu juga musti saling erat berpelukan antara lahir dengan batin. Memetik juga kalimat seorang kawan “you are what you eat” yang artinya “kamu adalah apa yang kamu makan” tidak cuma tersudut dalam makna bahwa ketika kita makan sesuatu berarti kita seperti sesuatu tersebut. Yang bisa ditilik di situ adalah serangkaian proses yang tidak terbatasi sistem pencernaan makanan dari mulut hingga anus. Untuk manusia yang berpikir tentunya menolak keras apabila urusan perut dihayati hanya sebatas itu. Ada rangkaian proses sistemik yang ajeg agar perut terisi dengan hal-hal yang baik. Bukan hanya sekedar kandungan gizi, nutrisi dan lain sebagainya, tapi sumber darimana dan bagaimana kita bisa mengonsumi makanan itu sendiri pun menjadi kaidah yang sangat penting.

Sang legenda, Iwan Fals dalam salah satu karya pernah berkata “manusia sama saja dengan binatang selalu perlu makan. Namun caranya berbeda dalam memperoleh makanan. Binatang tak mempunyai akal dan pikiran, segala cara dihalalkan demi perut kenyang,” pola makan sebuah bangsa ternyata tidak cukup diperhatikan hanya sebatas kandungannya semata. Adanya perbedaan kelas tentang makan yang harus terjawab dalam menuju kesejatiannya. Di kelas tertentu terdapat pertanyaan “apakah saya bisa makan?” di kelas lain ada pertanyaan, “dengan apa saya makan?” masih ada juga pertanyaan “dimana saya makan?” lalu pertanyaan lanjutan “dengan siapa saya makan?” dan mungkin ini yang dibilang bang Iwan “bahkan lebih keji dari binatang” yaitu pertanyaan “sekarang siapa yang akan saya makan?”

Inilah masa dimana kita mengisi kemerdekaan yang sudah dengan nyawa juga basahnya tanah air dengan basuhan darah para pejuang. Masa dimana kemudian kekuasaan sudah terdistribusi ke dalam saku celana para raja-raja kecil di negeri ini. Masa dimana 4 sehat 5 sempurna ternyata tidak menciptakan karakter bangsa yang sejati. Masa dimana mens sana incor pore sano dirasa hanya bualan belaka. Para figur publik yang berbadan sehat banyak sakit jiwanya, para pejabat negara yang bugar banyak yang bobrok moralnya. Masa dimana media gemar menyajikan kemerosotan budaya bangsanya. Masa dimana penyakit kronis bernama apatis sarat diidap oleh warganya.

Sungguh tidak sampai rupanya pola makan di negeri ini untuk dihitung se-per 4 dan dua, 5 sempurna sekalipun. Wajiblah para petinggi untuk menanggulangi kondisi sakit seperti ini agar warganya kembali sehat bukan hanya raga. Konon katanya, di sukabumi ini pemerintah kota pernah membagikan dua keping kartu pada seluruh penduduknya; Kartu Cerdas dan Kartu Sehat. Sungguh sebuah program yang sangat mulia. Sebab mau jadi apa jika warga Sukabumi tolol tidak memiliki kecerdasan diri? Kerbau ngamuk sekalipun bakal kalah merepotkannya dibanding warga ngamuk. Lebih parah lagi jika kerepotan yang ditimbulkan akan terjalar sampai ke pusat, ibukota. Terus, sangat tidak terbayangkan apabila warga sakit-sakitan tanpa mampu berobat. Pimpinan kota bakal stress, dan panjatkanlah doa sekuatnya, jangan sampai terjadi genosida. Tak sopan juga kiranya jika kita sandarkan dua hal di atas pada pilar balai kota. jikalau ini merupakan dosa yang dilakukan secara berjamaah, sudah seharusnya tobat dilakukan secara berjamaah pula.

Hamdan sanjaya

Sukabumi, 02-03-2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here